FILSAFAT PANCASILA
A.
Pengertian Filsafat
Filsafat :Sebagai kata majemuk dari “
Philein “ dan Sophos “ artinya mencintai hal-hal yang sifatnya bijaksana.
Sementara ahli mengatakan “ Sophia artinya lebih luas dari bijaksana (
Kerajinan /crefismanship, kebenaran/ truth, pengetahuan yang luas/ wide
knowledgw, kecerdikan.
B.
Obyek Fisafat
Filsafat mempunyai bidang bahasan yang sangat luas yaitu segala sesuatu
baik yang bersifat kongkrit maupun yang bersifat abstrak. Untuk itu perlu
dipahami obyek material dan formal ilmu filsafat.
- Obyek
Material yaitu;obyek pemahaman filsafat yang meliputi segala sesuatu baik yang
bersifat material kongkrit seperti;
manusia, alam , benda, binatang dsb.maupun yang bersifat abstrak misalnya;
nilai-nilai, ide-ide, ideology, moral, pandangan hidup dsb.
- Obyek Formal; adalah cara memandang seorang peneliti terhadap obyek
material tersebut. Suatu obyek material tertentu dapat ditinjau dari
berbagai macam sudut pandang yang
berbeda. Oleh karena itu terdapat berbagai macam sudut pandang filsafat yang
merupakan cabang-cabang Filsaf, antara lain dari sudut pandang nilai terdapat
bidang aksiologi dan sudut pandang pengetahuan terdapat bidang epistemology.
C. Ruang Lingkup Filsafat
Berdasarkan kedua obyek
tersebut, maka lingkup pengertia Filsafat menjadi sangat luas, yaitu ;
a. Filsafat sebagai
suatu Kebijaksanaan yang Rasional dari Segala Sesuatu.
Sebagaimana dikemukakan oleh james K.
Feibleman, bahwa filsafat sebagai suatu kebijaksanaan yang rasional tentang
segala sesuatu terutama dalam kaitannya dengan hidup manusia. Manusia dalam
hidupnya mengalami berbagai macam problema hidup a.l; masalah ekonomi, social
pootik, ekonomi dsb. Dalam masalah ini manusia perlu menentukan suatu
kebijaksanaan yang hakiki dan rasional. Agar manusia dapat menyelesaikan secara
arif bijaksana harus memiliki dasar-dasar kebijaksanaan yang lazim bersumber
pada agama dan pandangan hidupnya.
b. Filsafat sebagai Suatu Sikap dan Pandangan
Hidup.
Manusia dalam menghadapi
segala macam problem dalam hidupnya yang harus diselesaikan berdasarkan sikap
dan pandangan hidupnya Dalam masalah ini manusia harus memiliki prinsip-prinsip sebagai suartu sikap dan
pandangan hidup agar di dalamnya hidupnya tidak terombang-ambing bagaimanapun
sulit dan rumit nya problem dalam hidup manusia haruslah dihadapi secara
mendalam, kritis dan terbuka Dengan demikian akan menumbuhkan keseimbangan
pribadi, ketenangan dan penuh dengan pengendalian diri (lihat Harold Titus,
dkk)
c. Filsafah sebagi Suatu Kelompok Persoalan
Manusia
dalam kehidupan sehari-hari senantiasa menghadapi persoalan-persoalan yang
memerlukan suatu jawaban. Namun tidak semua persoalan manusia dikatakan
filsafat, misalnya persoalan biasa dalam kehidupan sehari-hari antara lain
berapa jumlah kebutuhan hidup manusia sehari hari , bagaimana seseorang
mendapatkan penghasilan, berapa jumlah kendaraan yang dimiliki seseorang dan
lain sebagainya ini tidak termasuk persoalan filsafat. Persoalan manusia yang
termasuk Filsafat adalah bersifat, fundamental, mendalam hakiki serta
memerlukan jawaban yang mendalam hakiki sampai pada tingkat hakikatbya.
Misalnya apakah hakikat hidup manusia? Apakah manusia itu memiliki kebebabasan
atau tidak memiliki kebebasan dan apa dasar-dasarnya? Apakah hakikat pengertian
kebenaran? Apakah hakikat keberadaan manusia di dunia apakah terkait oleh sebab
akibat ataukan manusia ada di dunia secara kebetulan dan lain sebagainya.
Pertanyaan-pertanyaan yang merupakan persoalan yang fundamental tersebut
memerlukan jawaban dan penyelesaian yang rasional kritis mendalam dan akan
terjadi secara terus menerus.
d. Filsafat sebagai suatu Kelompok Teori dan
System Pemikiran
Pekembangan filsafat sampai periode abad pertengahan bahkan aliran
moderen ditandai dengan menculnya sistem-sistem pemikiran dan teri-teori
Misalnya sederetan filsuf seperti Agus Comte dengan pemikiran positivisme, Hendri Bergson dengan Intuisionismenya, John
Locke dengan Empirismenya, Kar Marx dengan komunismenya dan lain sebagainya. Semua
filsuf tersebut mengemukakan sistem pemikirn serta terorinya. Semua filsif
tersebut mengemukakan sistem pemikiran serta teorinya masing masing dengan ciri
khas serta metodenya masing-masing (Harold Titus, dkk).
E. Filsafat
sebagai Suatu Proses Kritis dan Sistematis dari segala Pengetahuan Manusia
Filsafat senantiasa berupa untuk meninjau
secara kritis segala pengetahuan manusia dewasa ini. Apakah metode yang telah
digunakan dalam suatu ilmu dapat
benar-benar mencapai kebenaran obyektif, apakah hakikat objek ilmu pengetahuan
manusia itu dapat diamati dengan indera manuisa ataukanh hanya dapat dipahami
berdasarkan akal dan budi manusia. Maka
filsafat senantiasa memberikan tinjauan kritis terhadap paradigma ilmu
pengetahuan. Secara praktis dalam proses penelitian ilmiah antara metode, objek
penelitian serta segala instrumen penelitian haruslah memiliki kesesuaian.
Misalnya apakah gejala yang ada pada
manusia, kebudayaan, jiwa serta masyarakat memiliki kesamaan dengan
gejala-gejala yang ada pada alam. Maka semua sistem pengetahuan dan ilmu pengetahuan
manusia tersebut senantiasa ditinjau secara kritis oleh filsafat.
f. Filsafat sebagai usaha untuk memperoleh
Pandangan yang Komprehensif.
Menurut para ahli Filsafat spekulatif (
yang dibedakan dengan paham filsafat kritis ) yang a.l. tokohnya S>D Broad,
tujuan Filsafat adalah berupa menyatu-padukan hasil-hasil pengalaman manusia
dalam bidang keagamaan, etika, serta ilmu pengetahuan yang dilakukan secara
menyeluruh. Upaya ini diharapkan ntuk mendapatkan kesimpulan pemahaman secara umum tentang manusia, masyarakat, alam
dan hubungannya dengan manusia dan makhluk hidup lainnya serta
pandangan-pandangan yang menjangkau ke arah masa depan. Para filsuf yang
berupaya untuk mendapatkan pandangan yang bersifat komprehensif a.l; John
Dewey, Hegel,A.N, Whitehead, Aristoteles, Plato, Bergson dan lain sebaginya.
Sebenarnya untuk
mendiskripsikan pengertian filsafat akan lebih mudah dipahami lewat pendekatan
secara proporsional. Berfilsafat dapat mengandung arti melakukan aktivitas
filsafat dengan demikian akan mengnggunakan seperangkat metode-metode Filsafat,
dan sekaligus mempunyai filsafat.
Jadi manusia mempunyai
problem khas yang diusahakan untuk dipecahkan dengan cara berpikir yang khas
sehingga menghasilkan kesimpulan-kesimpulan pemecahan persoalan tersebut dalam
suatu himpunan pengetahuan yang khas pula. Tetapi ternyata himpunan pengetahuan
yang khas ini kemudian berfungsi ganda bagi subyek manusia yang berfilsafat.
1) Himpunan
pengetahuan merupakan umpan balik dalam rangka menghadapi dan mengusahakan
pemecaham problem yang semula sihadapi itu agar dapat diselesaikan dengan
memuaskan.
2) Himpunan
pengetahuan yang khas ini ternyata juga dapat dan selalu dipergunakan sebagai
masukan (imput) baru yang dipakai untuk titik tolak dan kerangka acuan dalam menghadapi
dan dan mengusahakan pemecahan yang dihadapi oleh sunyek, dan persoalan
tersebut dapat berupa, persoalan hidup sehari-hari, persoalan mondial, nasional
maupun universal, dan soal kemayarakatan.
Dari hasil penelitian
terhadap konsep-konsep pengertian filsafat dapat disederhanakan menjadi dua
pengertian pokok, yaitu mencakup
pengertian filsafat sebagai produk ( hasil pemikiran manusia ) dan dalam hal
ini bersifat statis, dan filsafat sebagai proses sehinga dalam hal ini filsafat
bersifat dinamis.
Filsafat sebagai Produk
mencakup pengertian ;
a. Pengertrai
filsafat mencakup arti-arti filsafat sebagai jenis pengetahuan, ilmu, konsep
dari para filsuf pada jaman dahulu, aliran tertentu yang merupakan hasil dari
proses berfilsafat yang mempunyai ciri-ciri tertentu.
b. Filsafat sebagai suatu jenis problem yang
dihadapi oleh manusia sebagai hasil dari aktivitas berfilsafat. Filsafat dalam
pengertian jenis ini mempunyai ciri-ciri khas tertentu sebagai suatu hasil
kegiatan berfilsafat dan pada umumnya proses pemecahan persoalan filsafat ini
diselesaikan dengan kegiatan berfilsafat ( dalam pengertian filsafat sebagai
proses yang dinamis).
Filsafat sebagai suatu
proses
Filsafat
diartikan dalam bentuk suatu aktivitas berfilsafat. Dalam proses pemecahan suatu
permasalahan dengan menggunakan suatu cara dan metode tertentu sesuai dengan
obyek permasalahannya. Dalam pengertian ini filsafat merupakan suatu sistem
pengetahuan yang bersifat dinamis. Filsafat dalam pengertian ini tidak lagi
hanya sekumpulan dogma yang hanya diyakini ditekuni dan dipahami sebagai suatu
sistem nilai tertentu tetapi lebih merupakan suatu aktivitas berfilsafat, suatu
proses yang dinamis dengan menggunakan suatu cara metode tersendiri.
D.
Ciri – ciri berfikir Secara Kefilsafatan
Secara fitrah manusia normal senantiasa
melakukan kegiatan berfikir, kegiatan inilah yang membedakan manusia dengan
makhluk lainnya. Namun demikian tidak semua kegiatan berfikir disebut kegiatan
berfilsafat. Orang yang sedang berfikir untuk melunasi hutangnya pada
bank bukannya disebut berfilsafat, demikian juga kegiatan berfikir secara
kefilsafatan bukan hanya merenung atau kontemplasi belaka yang tidak ada
sangkut pautnya dengan realitas, namun berfikir secara kefilsafatan senantiasa
berkaitan dengan masalah-masalah manusia yang bersifat actual dan hakiki.
Misalnya dewasa ini umat manusia hidup dengan hasil teknologi dan ilmu
pengetahuan yang sangat canggih, namun manusia dihadapkan kepada dampak dan
akibat langsung yang mengancam manusia yaitu kelangsungan kesejahteraan dan
kedamaian manusia. Hal ini harus
diselesaikan dengan filsafat. Maka di dalam problem-problem aktual dewasa ini
timbul pertanyaan yang essensial. Misalnya bagaiman hakekat hubungan manusia
dengan alam pengeloh alam dsb. Contoh-contoh permasalahan yang filosofis yang
demikian ini pada hakekatnya tidak mungkin dapat diselesaikan hanya dengan
merenung dan kontemplasi belaka, namun dengan segala akal budinya manusia harus
menyelesaikan sampai menemukan hakekat yang terdalam. Olehkarena itu kegunaan
kefilsafatan dewasa ini tidak hanya berfikir tentang ide-ide yang muluk-muluk,
namun kegiatan kefilsafatan dewasa ini berkaitan dan mengacu kepada
peristiwa-peristiwa yang kongkrit. Hal ini didasarkan pada suatu kenyataan
bahwa yang terkait secara langsung dengan realitas bukannya ide-ide yang hebat,
konsep yang muluk, namun manusia yang berbicara tentang harapan dan
kewajibannya yang bersama-sama membentuk masyarakat yang bertanggung jawab.
1.
Bersifat kritis;
Yaitu senantiasa mempertanyakan segala
sesuatu, problem-problem atau hal-hal
lain yang sedang dihadapi oleh manusia. Oleh karena itu ciri berfikir
secara kefilsafatan senantiasa bersifat dinamis. Dalam masalah ini pertanyaan
yang sangat fondamental dan falsafah adalah “ APA “ yang konsekuensinya harus dicari
penyelesaiannya samapai pada intinya yang terdalam. Sifat kritis ini juga
mengawali perkembangan ilpeng modern. Kaum induktivisme mengembangkan metode induksi sebagai metode
yang utama dalam penelitian ilmiah. Misalnya C.G Hempel yang menyatakan bahwa
dari pada induksi menjadi tolok ukur menyusun hipotesis. Lebih baik dipakai
sebagai tolok ukur untuk kesahihan.
2.
Bersifat Terdalam;
Yaitu
bukan hanya sampai pada fakta-fakta yang sifatnya sangat khusus dan empiris
belaka, namun sampai pada intinya yang terdalam yaitu substansinya yang
bersifat universal. Sifat yang demikian ini sering disebut berfiir secara
radikal yang berarti sampai keradixnya.
Sampai keakarnya sesuatu gejala yang hendak dipermasalahkan. Dengan
jalan penjajagan yang bersifat radikal tersebut sampailah kepada
kesimpulan-kesimpulan yang terdalam yang bersifat universal/ kefilsafatan
sampai pada hakekatnya.
Misalnya
tentang obyek materi manusia, kita bukanhanya sampai kepada gejala-gejala yang
sifatnya khusus dan sempit, misalnya hanya dari aspek sosialnya atau gejala
psikisnya, namun harus pada suatu kenyataan bahwa gejala-gejala yang bersifat
empiris, khusus dan kebetulan pada hakekatnya senantiasa berubah. Oleh karena
itu berfikir secara kefilsafatan harus sampai pada suatu kesimpulan yang
terdalam, tetap dan tidak berubah yaitu sampai pada hakekatnya.
3.
Bersifat konseptual;
Perenungan
kefilsafatan adalah merupakan kegiatan akal budi dan mental manusia yang
berusaha untuk menyusun suatu bagan yang bersifat konseptual yang merupakan
hasil generalisasi serta abstraksi dan pengalaman tentang hal-hal yang bersifat
khusus dan individual. Maka pemikiran kefilsafatan tidaklah cukup hanya
disimpulkan berdasarkan beberapa bukti yang sifatnya empiris, kuantitatif dan terbatas namun pemikiran kefilsafatan harus
melampaui batas-batas pengalaman yang sifatnya empiris dan merupakan abstraksi
dan generalisasi dari hal-hal yang sifatnya khusus, individual dan kongkrit.
Oleh karena itu berfikir secara kefilsafatan bukanlah hanya berfikir mengawang,
namun juga berkaitan dengan masalah-masalah yang kongkrit yang dihadapi oleh
umat manusia kemudian dengan generalisasi dan abstraksi maka sampailah kepada
kesimpulan-kesimpulan yang bersifat konseptual.
4.
Koheren ( runtut )
Pemikiran
kefilsafatan berusaha menyususn suatu bagan yang konseptual yang koheren (
runtut ). Bilamana bagan konseptual dari suatu pemikiran kefilsafatan terdiri
atas A,B,C,D dan E, maka kesemuanya itu harus ada pada suatu bagan yang
bersifat konseptual dan runtut. Jadi unsur A,B,C,D dan E harus bersifat
konsisten dan tidak saling bertentangan atau tidak merupakan sautau unsur yang
terpisah sama sekali. Sebagaimana dipahami bahwa filsafat berusaha memperoleh
suatu penyeleseaian atau jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan agar dapat dipahami. Maka konsekuensinya
suatu pemikiran kefilsafatan tidak boleh mengandung suatu pertentangan di dalam
dirinya sendiri kefilsafatan tidak boleh mengundang suatu pertentangan di dalam
dirinya sendiri.
Contoh
suatu pernyataan yang bertentangan adalah sebagai berikut :
Pernyataan (A) Hujan turun
Pernyataan (B) Tidak benar bahwa hujan turun
Bila kedua pernyataan tersebut yaitu
(A) dan (B) berada dalam bagan pemikiran kefilsafatan yang konseptual maka bagan konseptual tersebut bersifat tidak runtut, tidak konsisten saling
bertentangan. Hal ini berarti bilamana pernyataan (A) yaitu bersifat benar maka
pernyataan (B) bersifat sesat; adapun sebaliknya bilamana pernyataan (B) benar
maka (A) berarti sesat.
Jadi dapat disimpulkan bahwa suatu
bagan pemikiran kefilsafatan harus bersifat koheren runtut, tidak terdapat
suatu pertentangan dan terhadap suau hubungan (lihat konttsof, 1986 : 8)
5. bersifat rasional
Sebagaimana disebutkan diatas bahwa
pemikiran kesilfatan adalah merupakan suatu bagan pemikiran yang bersifat
konseptual adalah merupakan suatu bagan
pemikiran yang bersifat konsepsional dan runtut. Maka suatu bagan pemikiran
kefillasatan berusaha menyusun suatu bagan konsepsional yang bersifat
rasional. Yang dimaksudkan dengan
bagan konsepsional yang rasional adalah bagan yang bagian–bagiannya berhubungan
secara logis diatara suatu dan
lainnya. Oleh karena itu dalam suatu
bagan pemikiran kefilsafatan tidaklah mungkin hanya merupakan suatu
bagian-bagian yang tersusun secara terpisah tanpa terdapat suatu hubungan
diatara satu dan lainnya.
Jadi dalam suatu pemikiran kefilsafatan
bagian-bagiannya senantiasa memiliki
hubungan yang bersifat logis. Hal ini bukan karena membahas masalah yang
sama. namun bagian-bagainnya berhubungan
secara runtut dan sesuai dengan prinsip-prinsip logika. Bagian-Bagian tersebut
yang suatu harus terkandung pada yang lain atau merupakan penyimpulan yang
berasal dari suatu perangkat pernyataan yang mendahuluinya yang sejenis. Namun
suatu ciri yang sangat menonjol dalam system pemikiran kefilsafatan adalah
sifat rasionalnya tidak sama dengan sifat logika ilmu pasti, sifat rasional
dalam filsafat terbuka bagi kritik.
Misalnya Spinoza memulai dengan seperangkat definisi satu diantaranya
adalah definisi tentang substansi . Ia mendifinisikan substansi sebagai suatu
yang dapat dalam dirinya sendiri dan mengerti dalam dirinya sendiri. Memang tidaklah tetutup suatu kemungkinan
untuk menaruh suatu keberatan definisi ini, minta penjelasan lebih lanjut
tentang pengertian-Pengertian yang terkandung di dalam dan mempertanyakan
kesalahan dan makna yang memberikannya (Kattsoff, 1986, 11.12) Demikian pula
misalnya konsep kefilsafatan Notonagoro, yang menentukan tentang pengertian hakikat manusia beserta
unsur-unsur yang terkandung pada manusia yang bersifat “ monopluralis” Hal ini
berarti bahwa segala sesuatu yang unsure-unsurnya tidak sebagaimana
unsure-unsur yang terkandung pada manusia maka bukanlah sebagai hakikat
manusia. Hal ini kiranya menjadi sangat penting sekali karena manusia adalah
sebagai pendukung pokok negara.
6. bersifat menyerluruh (konoprehensip)
Pemikiran kefilsafatan berusaha
menyusun bagan yang konseptual rasional logis dan bersifat menyeluruh Hal ini
bahwa suatu pemikiran kefilsafatan bukan hanya berdasarkan pada suatu fakta
yang khusus dan individual saja yang kemudian sampai pada suatu kesimpulan yang
khusus dan individual juga namun pemikiran kefilsafatan harus sampai kepada
suatu kesimpulan yang sifat paling umum. Suatu pemikiran kefilsafatan harus bersifat
komprehensif (menyeluruh) artinya tidak ada sesuatupun yang di luar
jangkauannya (Kattoff, 1986 L ; 12) Misalnya konsep pemikiran kefilsafatan
tentang manusia bukanlah sekedar konsep tentang manusia tertentu atau bangsa
tertentu. Sifat menyeluruh dari pemikiran kefilsaatan ini juga berkaitan dengan
segi-segi tinjauan dan pembahasannya.
Misalnya obyek materi filsafat tentang manusia kalau hanya ditinjau dari
aspek fisiknya saja atasu aspek kejiwaannya saja berarti bersifat tidak
nmenyeluruh. Oleh karena intu agar sampai pada suatu pemikiran yang bersifat
konseptual maka pemikiran kefilsafatan harus pada suatu kesimpulan yang
bersifat kompehensip yang merupakan hasil generasi dan abstrak
7. Bersifat Universal
Sebagai mana dijelaskan diatas bahwa
suatu pemikiran kefilsafatan adalah berusaha menyusun suatu bagan yang bersifat
konsepsional rasional dan komprehensif
Karena cirinya yang demikian ini maka pada hakikatnya setiap pemikiran
kefilsafatan senantiasa bersifat universal Sifat universal berarti sampai pada
suatu kesimpulan yang bersifat umum bagi seluruh umat manusia dimanapun kapanpun dan dalam keadaan
apapun.
Pemikiran
kefilsafatan berusaha menemukan kenyataan kebenaran dengan berupa untuk samapi
dapt pada suatu kesimpulan-kesimpulan yang bersifat universal. Memang dapat
diakui bahwa untuk sampai kesimpulannyang bersifat universal terdapat para
filosof memiliki metodw sendirian namun memiliki suatu kesamaan yang dicapainya
adalah kenyataan yang bersifat universal yang disampaikan dari hal-hal (fakta-fakta
yang bersifat khusus) Fuad Hassan 1976) Dalam pengertian seperti inilah maka
filsafat sring disebut sebagai pandangan dunia (Weltanschuung) karena
memberikan kejelasan yang bersifat universal yaitu tentang dunia dan semua hal
yang ada di dalamnya Misalnya Democritus (460 – 370) S.M memberikan
pandangannya yang bersifat universial yang dikenakan dengan atomisme (lihat
Kaposoff, 1986)
8. Bersifat Spekulatif
Berfikir secara kefilsafatan juga
dirincikan dengan sifatnya yang sprkulatif (perekaan) Perekaan yaitu pengajuan
dugaan-dugaan yang masuk akal (rasional) yang melampaui batas-batas fakta Hal
ini merupakan semacam kegiatan akal budi manusia dengan melalui kemampuan dalam
imaginasi yang berdisiplin menghdapi persoalan-persoalan filsafat yang menuntut
pemecahan yang bijaksana Tujuan dari perekaan adalah penyatuanpaduan dari semua
pengetahuan demikian pemikiran dan pengalaman amnusia menjadi suatu pandangan
yang komprehensof ini dapat dilakukan dengan cara merendugkan secra menyeluruh
dari hasil-hasil berbagai macam ilmu dengan menambahkan kepada hasil-hasil dari
pengalaman etis keamanan Dengan cara yang demikian ini diharapkan bahwa
beberapa kesimpulan umum mengenai sifat dasar alam semesta serta kedudukan dan
prospek manusia di dalamnya dapat dicapainya ini merupakan suatu perenungan
meneganai perspektif yang universal yang berdasarkan pada suatu sintesis dan
penafsiran dari hasil-hasil semua refleksi manusia maka perekaan ini berusaha
untuk menyatukan semua tahap-tahapdari pengalaman manusia ke dalam suatu
kesatuan keseluruhan yang komprehensif dan bermakna.
9. Bersifat Sistematis
Berfikir secara kefilsafatan pada
hakikatnya tidak bersifat fragmentaris dan acak. Perenungan keflisafatan yang
dirincikan secara komprehensif, universal serta runtut senantiasa suatu
keseluruhan yang bersistem. Hal ini dimaksudkan bahwa pemikiran kefilsafatan
senantiasa memiliki bagian-bagian dan diantara bagian-bagian tersebut
senantiasa berhubungan antara satu dengan lainnya. Hubungan tersebut terjalin
dalam suatu kerjasama yang saling ketergantungan. Maka bilamana dirinci
ciri-ciri sistem adalah sebagai berikut :
1.
Suatu
kesatuan bagian-bagian
2.
Bagian-bagian
tersebut memilik fungsi sendiri-sendiri
3.
Saling
berhubungan (saling ketergantungan)
4.
Kesemuanya
dimaksudkan untuk mencapai tujuan bersama atau tujuan sistem.
5.
Terjadi
dalam suatu lingkungan yang kompleks (Shrode dan Voich, 1974 : 22) .
Jadi pemikiran kefilsafatan yang
bersifat rasional dan runtut pastilah merupakan suatu system.
Pemikiran-pemikiran kefisafatan memiliki bagian-bagian yang berada dalam suatu
jalinan hubungan terdapat fungus-fungsi, bagian bersifat kompleks serta empiris
John Locke (1632 – 1704) yang membagi pengalaman menjadi dua macam aliran
yaitu: pengalaman lahiriah (sensation) dan pengalaman batiniah (reflexion) Keddua
sumber pengalaman itu menghasilkan idea-idea tunggal simple ideas) namun roh
membentuk idea majemuk (complex ideas) .
10. Bersifat Bebas
Suatu bentuk pengekangan intelektual
adalah peniadaan kebebasan atas berfikir. Sifat berfikir secara kefilsafatan adalah
bersifat secara bebas untuk sampai pada hakikat yang terdalam dan universal.
Oleh karena itu ciri kreativitas senantiasa ada dalam cara kefilsafatan.
Sokrates misalnya memilih minum racun dari pada kebebasan berfikirnya
ditiadakan. Pengusasaan dan kekangan atas pikiran ini dapat terwujud dalam
berbagai macam bidang, misalnya misalnya bidang sosial politik kebudayaan
bahkan juga di bidang ilmu pengetahuan misalnya dewasa ini banyak yang secara tidak langsung dikekang dan
dijajah oleh orang atau bangsa lain. Kebanyakan intelektual lebih bangga
mengutarakan pendapatnya masih sangat tergantung pada produk pemikiran dari
barat. Kemerdekaan dalam berpikir inilah yang nampaknya memerlukan perhatian
kalangan filsuf maupun para ilmuwan dan hal iniakan mampu diatasi manakala kita
memahami secara kesungguhan makna berfikir secara kefilsafatan.
Nilai-nilai
Pancasila sebagai Suatu system
Isi arti sila-sila Pancasila pada
hakikatnya dapat dibedakan atas hakikat Pancasila yang umum universal yang merupakan
substansi sila-sila Pancasila, Sebagi pedoman pelaksanaan dan penyelenggaraan
negara yaitu sebagai dasr negra yang bersifat umum kolektif serta realisasi
pengamalan Pancasila yang bersifat khusus dan kongrit. Hakikat Pancasila adalah
merupakan nilai. Adapun sebagai pedoman negara adalah merupakan norma adapun
aktualisasi atau pengamal-annya adalah merupakan realisasi konrit Pancasila.
Substansi Pancasila dengan kelima silanya yang terdapat pada keutuhan,
Kemanusiaan, Persatuan kerakyatan dan keadilan merupakan suatu system
nilai. Prinsip dasar yang mengandung
kualitas tertentu itu merupakan cita-cita dan harapan atau hal yang akan
dicapai oleh bangsa Indonesia yang akan diwujudkan menjadi kenyataan kongrit
dalam kehidupannya baik dalam hidup bermasyarakat berbangsa dab bernegara Namun
disamping itu prinsip-prinsip dasar tersebut sebenarnya serta kehidupan
keagamaan bangsa Indonesia. Secara demikian ini sesuai dengan isi yang
terkandung dalam Pancasila, Secra demikian ini sesuai dengan isi yang terkandung
dalam Pancasila secara demikian otomatis mengandung tiga masayalah pokok dalam
kehidupan manusia yaitu bagaimana seharusnya manusia itu terhadap Tuhan yang
Maha Esa. Terdapat dirinya sendiri serta terhadap manusia laindan masyarakat
sehingga dengan demikian nmaka dalam Pancasila itu terkandung implikasi moral
yang terkadang dalam Substansi Pancasila yang merupakan Suatu nillai.
Niali-nilai yang terkait dalam sia
satusampai dengan limamerupakan cita-cita harapan dan dambaan bangsa bangsa
Indonesia yang akan diwujudkannya oleh bangsa Indonesia agar terwujud dalam
suatu masyarakat yang gemah rimpah loh jinawai tata tentran karta raharja
dengan penuh harapan diupayakan
terealisasi dalam sikap tingkah laku dan perbuatan setiap manusia Indonesia.
Bangsa Indonesia dalam hal ini
merupakan pendukung nilai-nilai Pancasila. Hal ini dapat dipahami berdasarkan
pengertian bahwa yang berketuhanan yang berkemanusiaan yang berpersatuan. yang
berakyatan dan yang berkeadilan pada hakikatnya adalah manusia. Sebagi pendukung
bulai. Bangsas Indonesia itulah yang menghargai mengakui, menerima Pancasila
sebagai suatu dasar-dasar nilai Panguan. Penghargaan dan penerimaan itu telah
menggejala serta termanifestasi dalam sikap tingkah laku dan perbuatan manusia
dan bangsa Indonesia maka bangsa Indonesia dalam hal ini sekaligus adalah
pengemban nilai-nilai Pancasila.
Nilai-nilai yang terkandung dalam
pancasila itu mempunyai tingkatan dalam ha kuantitas maupun kualitasnya. Namun
nilai-nilai itu merupakan suatu kesatuan saling berhubungan serta saling
melengkapi. Hal ini sebagaimana kita pahami bahwa sila-sila Pancasila itu pada
hakikatya merupakan suatu kesatuan saling yang bulat dan utuh atau merupakan
suatu kesatuan organic bertingkat dan bentuk pyramidal. Nilai-nilai berhubungan
secar erat dan nilai-nilai yang satu tidak dapat dipisahkan dari yang lainnya.
Sehingga niali-nilai itu masing-masing merupakan bagian yang integral dari
suatu system nilai yang dimiliki bangsa Indonesia, yang akan memberikan pola
atau patron bagi sikap, tingkah laku dan perbuatan bangsa Indonesia. Pancasila
merupakaan suatu system. Sila-sila itu merupakan suatu kesatuan organic. Antara
sila satu dan lainnya dalam Pancaslia itu saling mengkualifikasi saling
berkaitan dan berhubungan secara erat Adanya sila yang satu mengualifikasi
adanya sila lainnya dalam pengertian yang demikian ini pada hakikatnya
Pancasila itu merupakan suatu system niali dalam arti bahwa bagian-bagiian atau
sila-silanya saling berhubungan secara erat sehingga membentuk sutu struktur
yang menyeluruh.
Nilai-nilai yang terkandung dalam
Pancasila termasuk nilai kerohanian yang tinggi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar