Rabu, 11 Juni 2014

FILSAFAT PANCASILA

FILSAFAT PANCASILA

A. Pengertian Filsafat
       Filsafat :Sebagai kata majemuk dari “ Philein “ dan Sophos “ artinya mencintai hal-hal yang sifatnya bijaksana. Sementara ahli mengatakan “ Sophia artinya lebih luas dari bijaksana ( Kerajinan /crefismanship, kebenaran/ truth, pengetahuan yang luas/ wide knowledgw, kecerdikan.

B. Obyek Fisafat
       Filsafat mempunyai bidang bahasan yang sangat luas yaitu segala sesuatu baik yang bersifat kongkrit maupun yang bersifat abstrak. Untuk itu perlu dipahami obyek material dan formal ilmu filsafat.
- Obyek Material yaitu;obyek pemahaman filsafat yang meliputi segala sesuatu baik yang bersifat material kongkrit   seperti; manusia, alam , benda, binatang dsb.maupun yang bersifat abstrak misalnya; nilai-nilai, ide-ide, ideology, moral, pandangan hidup dsb.
-  Obyek Formal; adalah cara memandang seorang peneliti terhadap obyek material tersebut. Suatu obyek material tertentu dapat ditinjau dari berbagai  macam sudut pandang yang berbeda. Oleh karena itu terdapat berbagai macam sudut pandang filsafat yang merupakan cabang-cabang Filsaf, antara lain dari sudut pandang nilai terdapat bidang aksiologi dan sudut pandang pengetahuan terdapat bidang epistemology.

C. Ruang Lingkup Filsafat

Berdasarkan kedua obyek tersebut, maka lingkup pengertia Filsafat menjadi sangat luas, yaitu ;
a. Filsafat sebagai suatu Kebijaksanaan yang Rasional dari Segala Sesuatu.
 Sebagaimana dikemukakan oleh james K. Feibleman, bahwa filsafat sebagai suatu kebijaksanaan yang rasional tentang segala sesuatu terutama dalam kaitannya dengan hidup manusia. Manusia dalam hidupnya mengalami berbagai macam problema hidup a.l; masalah ekonomi, social pootik, ekonomi dsb. Dalam masalah ini manusia perlu menentukan suatu kebijaksanaan yang hakiki dan rasional. Agar manusia dapat menyelesaikan secara arif bijaksana harus memiliki dasar-dasar kebijaksanaan yang lazim bersumber pada agama dan pandangan hidupnya.
b.  Filsafat sebagai Suatu Sikap dan Pandangan Hidup.
Manusia dalam menghadapi segala macam problem dalam hidupnya yang harus diselesaikan berdasarkan sikap dan pandangan hidupnya Dalam masalah ini manusia harus memiliki  prinsip-prinsip sebagai suartu sikap dan pandangan hidup agar di dalamnya hidupnya tidak terombang-ambing bagaimanapun sulit dan rumit nya problem dalam hidup manusia haruslah dihadapi secara mendalam, kritis dan terbuka Dengan demikian akan menumbuhkan keseimbangan pribadi, ketenangan dan penuh dengan pengendalian diri (lihat Harold Titus, dkk)
c.   Filsafah sebagi Suatu Kelompok Persoalan
Manusia dalam kehidupan sehari-hari senantiasa menghadapi persoalan-persoalan yang memerlukan suatu jawaban. Namun tidak semua persoalan manusia dikatakan filsafat, misalnya persoalan biasa dalam kehidupan sehari-hari antara lain berapa jumlah kebutuhan hidup manusia sehari hari , bagaimana seseorang mendapatkan penghasilan, berapa jumlah kendaraan yang dimiliki seseorang dan lain sebagainya ini tidak termasuk persoalan filsafat. Persoalan manusia yang termasuk Filsafat adalah bersifat, fundamental, mendalam hakiki serta memerlukan jawaban yang mendalam hakiki sampai pada tingkat hakikatbya. Misalnya apakah hakikat hidup manusia? Apakah manusia itu memiliki kebebabasan atau tidak memiliki kebebasan dan apa dasar-dasarnya? Apakah hakikat pengertian kebenaran? Apakah hakikat keberadaan manusia di dunia apakah terkait oleh sebab akibat ataukan manusia ada di dunia secara kebetulan dan lain sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan yang merupakan persoalan yang fundamental tersebut memerlukan jawaban dan penyelesaian yang rasional kritis mendalam dan akan terjadi secara terus menerus.
d.  Filsafat sebagai suatu Kelompok Teori dan System Pemikiran
   Pekembangan filsafat sampai periode abad pertengahan bahkan aliran moderen ditandai dengan menculnya sistem-sistem pemikiran dan teri-teori Misalnya sederetan filsuf seperti Agus Comte dengan pemikiran positivisme,  Hendri Bergson dengan Intuisionismenya, John Locke dengan Empirismenya, Kar Marx dengan komunismenya dan lain sebagainya. Semua filsuf tersebut mengemukakan sistem pemikirn serta terorinya. Semua filsif tersebut mengemukakan sistem pemikiran serta teorinya masing masing dengan ciri khas serta metodenya masing-masing (Harold Titus, dkk).
E. Filsafat sebagai Suatu Proses Kritis dan Sistematis dari segala Pengetahuan   Manusia
       Filsafat senantiasa berupa untuk meninjau secara kritis segala pengetahuan manusia dewasa ini. Apakah metode yang telah digunakan dalam suatu ilmu  dapat benar-benar mencapai kebenaran obyektif, apakah hakikat objek ilmu pengetahuan manusia itu dapat diamati dengan indera manuisa ataukanh hanya dapat dipahami berdasarkan akal dan  budi manusia. Maka filsafat senantiasa memberikan tinjauan kritis terhadap paradigma ilmu pengetahuan. Secara praktis dalam proses penelitian ilmiah antara metode, objek penelitian serta segala instrumen penelitian haruslah memiliki kesesuaian. Misalnya apakah  gejala yang ada pada manusia, kebudayaan, jiwa serta masyarakat memiliki kesamaan dengan gejala-gejala yang ada pada alam. Maka semua sistem pengetahuan dan ilmu pengetahuan manusia tersebut senantiasa ditinjau secara kritis oleh filsafat.
f.    Filsafat sebagai usaha untuk memperoleh Pandangan yang Komprehensif.
     Menurut para ahli Filsafat spekulatif ( yang dibedakan dengan paham filsafat kritis ) yang a.l. tokohnya S>D Broad, tujuan Filsafat adalah berupa menyatu-padukan hasil-hasil pengalaman manusia dalam bidang keagamaan, etika, serta ilmu pengetahuan yang dilakukan secara menyeluruh. Upaya ini diharapkan ntuk mendapatkan kesimpulan pemahaman  secara umum tentang manusia, masyarakat, alam dan hubungannya dengan manusia dan makhluk hidup lainnya serta pandangan-pandangan yang menjangkau ke arah masa depan. Para filsuf yang berupaya untuk mendapatkan pandangan yang bersifat komprehensif a.l; John Dewey, Hegel,A.N, Whitehead, Aristoteles, Plato, Bergson dan lain sebaginya.
Sebenarnya untuk mendiskripsikan pengertian filsafat akan lebih mudah dipahami lewat pendekatan secara proporsional. Berfilsafat dapat mengandung arti melakukan aktivitas filsafat dengan demikian akan mengnggunakan seperangkat metode-metode Filsafat, dan sekaligus mempunyai filsafat.
Jadi manusia mempunyai problem khas yang diusahakan untuk dipecahkan dengan cara berpikir yang khas sehingga menghasilkan kesimpulan-kesimpulan pemecahan persoalan tersebut dalam suatu himpunan pengetahuan yang khas pula. Tetapi ternyata himpunan pengetahuan yang khas ini kemudian berfungsi ganda bagi subyek manusia yang berfilsafat.
1) Himpunan pengetahuan merupakan umpan balik dalam rangka menghadapi dan mengusahakan pemecaham problem yang semula sihadapi itu agar dapat diselesaikan dengan memuaskan.
2) Himpunan pengetahuan yang khas ini ternyata juga dapat dan selalu dipergunakan sebagai masukan (imput) baru yang dipakai untuk titik tolak dan kerangka acuan dalam menghadapi dan dan mengusahakan pemecahan yang dihadapi oleh sunyek, dan persoalan tersebut dapat berupa, persoalan hidup sehari-hari, persoalan mondial, nasional maupun universal, dan soal kemayarakatan.
Dari hasil penelitian terhadap konsep-konsep pengertian filsafat dapat disederhanakan menjadi dua pengertian pokok, yaitu  mencakup pengertian filsafat sebagai produk ( hasil pemikiran manusia ) dan dalam hal ini bersifat statis, dan filsafat sebagai proses sehinga dalam hal ini filsafat bersifat dinamis. 

Filsafat sebagai Produk mencakup pengertian ;
a.  Pengertrai filsafat mencakup arti-arti filsafat sebagai jenis pengetahuan, ilmu, konsep dari para filsuf pada jaman dahulu, aliran tertentu yang merupakan hasil dari proses berfilsafat yang mempunyai ciri-ciri tertentu.
b.  Filsafat sebagai suatu jenis problem yang dihadapi oleh manusia sebagai hasil dari aktivitas berfilsafat. Filsafat dalam pengertian jenis ini mempunyai ciri-ciri khas tertentu sebagai suatu hasil kegiatan berfilsafat dan pada umumnya proses pemecahan persoalan filsafat ini diselesaikan dengan kegiatan berfilsafat ( dalam pengertian filsafat sebagai proses yang dinamis).

Filsafat sebagai suatu proses
Filsafat diartikan dalam bentuk suatu aktivitas berfilsafat. Dalam proses pemecahan suatu permasalahan dengan menggunakan suatu cara dan metode tertentu sesuai dengan obyek permasalahannya. Dalam pengertian ini filsafat merupakan suatu sistem pengetahuan yang bersifat dinamis. Filsafat dalam pengertian ini tidak lagi hanya sekumpulan dogma yang hanya diyakini ditekuni dan dipahami sebagai suatu sistem nilai tertentu tetapi lebih merupakan suatu aktivitas berfilsafat, suatu proses yang dinamis dengan menggunakan suatu cara metode tersendiri.

D. Ciri – ciri berfikir Secara Kefilsafatan
       Secara fitrah manusia normal senantiasa melakukan kegiatan berfikir, kegiatan inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Namun demikian tidak semua kegiatan berfikir disebut kegiatan berfilsafat. Orang yang sedang berfikir untuk melunasi hutangnya pada bank bukannya disebut berfilsafat, demikian juga kegiatan berfikir secara kefilsafatan bukan hanya merenung atau kontemplasi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan realitas, namun berfikir secara kefilsafatan senantiasa berkaitan dengan masalah-masalah manusia yang bersifat actual dan hakiki. Misalnya dewasa ini umat manusia hidup dengan hasil teknologi dan ilmu pengetahuan yang sangat canggih, namun manusia dihadapkan kepada dampak dan akibat langsung yang mengancam manusia yaitu kelangsungan kesejahteraan dan kedamaian manusia.  Hal ini harus diselesaikan dengan filsafat. Maka di dalam problem-problem aktual dewasa ini timbul pertanyaan yang essensial. Misalnya bagaiman hakekat hubungan manusia dengan alam pengeloh alam dsb. Contoh-contoh permasalahan yang filosofis yang demikian ini pada hakekatnya tidak mungkin dapat diselesaikan hanya dengan merenung dan kontemplasi belaka, namun dengan segala akal budinya manusia harus menyelesaikan sampai menemukan hakekat yang terdalam. Olehkarena itu kegunaan kefilsafatan dewasa ini tidak hanya berfikir tentang ide-ide yang muluk-muluk, namun kegiatan kefilsafatan dewasa ini berkaitan dan mengacu kepada peristiwa-peristiwa yang kongkrit. Hal ini didasarkan pada suatu kenyataan bahwa yang terkait secara langsung dengan realitas bukannya ide-ide yang hebat, konsep yang muluk, namun manusia yang berbicara tentang harapan dan kewajibannya yang bersama-sama membentuk masyarakat yang bertanggung jawab.

1. Bersifat kritis;
 Yaitu senantiasa mempertanyakan segala sesuatu, problem-problem atau hal-hal  lain yang sedang dihadapi oleh manusia. Oleh karena itu ciri berfikir secara kefilsafatan senantiasa bersifat dinamis. Dalam masalah ini pertanyaan yang sangat fondamental dan falsafah adalah “ APA “  yang konsekuensinya harus dicari penyelesaiannya samapai pada intinya yang terdalam. Sifat kritis ini juga mengawali perkembangan ilpeng modern. Kaum induktivisme  mengembangkan metode induksi sebagai metode yang utama dalam penelitian ilmiah. Misalnya C.G Hempel yang menyatakan bahwa dari pada induksi menjadi tolok ukur menyusun hipotesis. Lebih baik dipakai sebagai tolok ukur untuk kesahihan.
2. Bersifat Terdalam;
Yaitu bukan hanya sampai pada fakta-fakta yang sifatnya sangat khusus dan empiris belaka, namun sampai pada intinya yang terdalam yaitu substansinya yang bersifat universal. Sifat yang demikian ini sering disebut berfiir secara radikal yang berarti sampai keradixnya.  Sampai keakarnya sesuatu gejala yang hendak dipermasalahkan. Dengan jalan penjajagan yang bersifat radikal tersebut sampailah kepada kesimpulan-kesimpulan yang terdalam yang bersifat universal/ kefilsafatan sampai pada hakekatnya.
Misalnya tentang obyek materi manusia, kita bukanhanya sampai kepada gejala-gejala yang sifatnya khusus dan sempit, misalnya hanya dari aspek sosialnya atau gejala psikisnya, namun harus pada suatu kenyataan bahwa gejala-gejala yang bersifat empiris, khusus dan kebetulan pada hakekatnya senantiasa berubah. Oleh karena itu berfikir secara kefilsafatan harus sampai pada suatu kesimpulan yang terdalam, tetap dan tidak berubah yaitu sampai pada hakekatnya.
3. Bersifat konseptual;
Perenungan kefilsafatan adalah merupakan kegiatan akal budi dan mental manusia yang berusaha untuk menyusun suatu bagan yang bersifat konseptual yang merupakan hasil generalisasi serta abstraksi dan pengalaman tentang hal-hal yang bersifat khusus dan individual. Maka pemikiran kefilsafatan tidaklah cukup hanya disimpulkan berdasarkan beberapa bukti yang sifatnya empiris, kuantitatif dan  terbatas namun pemikiran kefilsafatan harus melampaui batas-batas pengalaman yang sifatnya empiris dan merupakan abstraksi dan generalisasi dari hal-hal yang sifatnya khusus, individual dan kongkrit. Oleh karena itu berfikir secara kefilsafatan bukanlah hanya berfikir mengawang, namun juga berkaitan dengan masalah-masalah yang kongkrit yang dihadapi oleh umat manusia kemudian dengan generalisasi dan abstraksi maka sampailah kepada kesimpulan-kesimpulan yang bersifat konseptual.
4. Koheren ( runtut )
Pemikiran kefilsafatan berusaha menyususn suatu bagan yang konseptual yang koheren ( runtut ). Bilamana bagan konseptual dari suatu pemikiran kefilsafatan terdiri atas A,B,C,D dan E, maka kesemuanya itu harus ada pada suatu bagan yang bersifat konseptual dan runtut. Jadi unsur A,B,C,D dan E harus bersifat konsisten dan tidak saling bertentangan atau tidak merupakan sautau unsur yang terpisah sama sekali. Sebagaimana dipahami bahwa filsafat berusaha memperoleh suatu penyeleseaian atau jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan  agar dapat dipahami. Maka konsekuensinya suatu pemikiran kefilsafatan tidak boleh mengandung suatu pertentangan di dalam dirinya sendiri kefilsafatan tidak boleh mengundang suatu pertentangan di dalam dirinya sendiri.


Contoh suatu pernyataan yang bertentangan adalah sebagai berikut :
            Pernyataan (A)         Hujan turun
            Pernyataan (B)         Tidak benar bahwa hujan turun

            Bila kedua pernyataan tersebut yaitu (A) dan (B) berada dalam bagan pemikiran kefilsafatan yang konseptual  maka bagan konseptual tersebut bersifat  tidak runtut, tidak konsisten saling bertentangan. Hal ini berarti bilamana pernyataan (A) yaitu bersifat benar maka pernyataan (B) bersifat sesat; adapun sebaliknya bilamana pernyataan (B) benar maka (A) berarti sesat.
            Jadi dapat disimpulkan bahwa suatu bagan pemikiran kefilsafatan harus bersifat koheren runtut, tidak terdapat suatu pertentangan dan terhadap suau hubungan (lihat konttsof, 1986 : 8)
5.    bersifat rasional
Sebagaimana disebutkan diatas bahwa pemikiran kesilfatan adalah merupakan suatu bagan pemikiran yang bersifat konseptual  adalah merupakan suatu bagan pemikiran yang bersifat konsepsional dan runtut. Maka suatu bagan pemikiran kefillasatan berusaha menyusun suatu bagan konsepsional  yang bersifat  rasional.  Yang dimaksudkan dengan bagan konsepsional yang rasional adalah bagan yang bagian–bagiannya berhubungan secara logis diatara  suatu dan lainnya.  Oleh karena itu dalam suatu bagan pemikiran kefilsafatan tidaklah mungkin hanya merupakan suatu bagian-bagian yang tersusun secara terpisah tanpa terdapat suatu hubungan diatara satu dan lainnya. 
Jadi  dalam suatu pemikiran kefilsafatan bagian-bagiannya senantiasa memiliki   hubungan yang bersifat logis. Hal ini bukan karena membahas masalah yang sama. namun  bagian-bagainnya berhubungan secara runtut dan sesuai dengan prinsip-prinsip logika. Bagian-Bagian tersebut yang suatu harus terkandung pada yang lain atau merupakan penyimpulan yang berasal dari suatu perangkat pernyataan yang mendahuluinya yang sejenis. Namun suatu ciri yang sangat menonjol dalam system pemikiran kefilsafatan adalah sifat rasionalnya tidak sama dengan sifat logika ilmu pasti, sifat rasional dalam filsafat terbuka bagi kritik.  Misalnya Spinoza memulai dengan seperangkat definisi satu diantaranya adalah definisi tentang substansi . Ia mendifinisikan substansi sebagai suatu yang dapat dalam dirinya sendiri dan mengerti dalam dirinya sendiri.  Memang tidaklah tetutup suatu kemungkinan untuk menaruh suatu keberatan definisi ini, minta penjelasan lebih lanjut tentang pengertian-Pengertian yang terkandung di dalam dan mempertanyakan kesalahan dan makna yang memberikannya (Kattsoff, 1986, 11.12) Demikian pula misalnya konsep kefilsafatan Notonagoro, yang menentukan tentang  pengertian hakikat manusia beserta unsur-unsur yang terkandung pada manusia yang bersifat “ monopluralis” Hal ini berarti bahwa segala sesuatu yang unsure-unsurnya tidak sebagaimana unsure-unsur yang terkandung pada manusia maka bukanlah sebagai hakikat manusia. Hal ini kiranya menjadi sangat penting sekali karena manusia adalah sebagai pendukung pokok negara.

6.    bersifat menyerluruh (konoprehensip)
Pemikiran kefilsafatan berusaha menyusun bagan yang konseptual rasional logis dan bersifat menyeluruh Hal ini bahwa suatu pemikiran kefilsafatan bukan hanya berdasarkan pada suatu fakta yang khusus dan individual saja yang kemudian sampai pada suatu kesimpulan yang khusus dan individual juga namun pemikiran kefilsafatan harus sampai kepada suatu kesimpulan yang sifat paling umum. Suatu pemikiran kefilsafatan harus bersifat komprehensif (menyeluruh) artinya tidak ada sesuatupun yang di luar jangkauannya (Kattoff, 1986 L ; 12) Misalnya konsep pemikiran kefilsafatan tentang manusia bukanlah sekedar konsep tentang manusia tertentu atau bangsa tertentu. Sifat menyeluruh dari pemikiran kefilsaatan ini juga berkaitan dengan segi-segi tinjauan dan pembahasannya.  Misalnya obyek materi filsafat tentang manusia kalau hanya ditinjau dari aspek fisiknya saja atasu aspek kejiwaannya saja berarti bersifat tidak nmenyeluruh. Oleh karena intu agar sampai pada suatu pemikiran yang bersifat konseptual maka pemikiran kefilsafatan harus pada suatu kesimpulan yang bersifat kompehensip yang merupakan hasil generasi dan abstrak


7.    Bersifat Universal
Sebagai mana dijelaskan diatas bahwa suatu pemikiran kefilsafatan adalah berusaha menyusun suatu bagan yang bersifat konsepsional rasional dan  komprehensif Karena cirinya yang demikian ini maka pada hakikatnya setiap pemikiran kefilsafatan senantiasa bersifat universal Sifat universal berarti sampai pada suatu kesimpulan yang bersifat umum bagi seluruh umat  manusia dimanapun kapanpun dan dalam keadaan apapun.
      Pemikiran kefilsafatan berusaha menemukan kenyataan kebenaran dengan berupa untuk samapi dapt pada suatu kesimpulan-kesimpulan yang bersifat universal. Memang dapat diakui bahwa untuk sampai kesimpulannyang bersifat universal terdapat para filosof memiliki metodw sendirian namun memiliki suatu kesamaan yang dicapainya adalah kenyataan yang bersifat universal yang disampaikan dari hal-hal (fakta-fakta yang bersifat khusus) Fuad Hassan 1976) Dalam pengertian seperti inilah maka filsafat sring disebut sebagai pandangan dunia (Weltanschuung) karena memberikan kejelasan yang bersifat universal yaitu tentang dunia dan semua hal yang ada di dalamnya Misalnya Democritus (460 – 370) S.M memberikan pandangannya yang bersifat universial yang dikenakan dengan atomisme (lihat Kaposoff, 1986)

8.    Bersifat Spekulatif
Berfikir secara kefilsafatan juga dirincikan dengan sifatnya yang sprkulatif (perekaan) Perekaan yaitu pengajuan dugaan-dugaan yang masuk akal (rasional) yang melampaui batas-batas fakta Hal ini merupakan semacam kegiatan akal budi manusia dengan melalui kemampuan dalam imaginasi yang berdisiplin menghdapi persoalan-persoalan filsafat yang menuntut pemecahan yang bijaksana Tujuan dari perekaan adalah penyatuanpaduan dari semua pengetahuan demikian pemikiran dan pengalaman amnusia menjadi suatu pandangan yang komprehensof ini dapat dilakukan dengan cara merendugkan secra menyeluruh dari hasil-hasil berbagai macam ilmu dengan menambahkan kepada hasil-hasil dari pengalaman etis keamanan Dengan cara yang demikian ini diharapkan bahwa beberapa kesimpulan umum mengenai sifat dasar alam semesta serta kedudukan dan prospek manusia di dalamnya dapat dicapainya ini merupakan suatu perenungan meneganai perspektif yang universal yang berdasarkan pada suatu sintesis dan penafsiran dari hasil-hasil semua refleksi manusia maka perekaan ini berusaha untuk menyatukan semua tahap-tahapdari pengalaman manusia ke dalam suatu kesatuan keseluruhan yang komprehensif dan bermakna.

9.    Bersifat Sistematis
Berfikir secara kefilsafatan pada hakikatnya tidak bersifat fragmentaris dan acak. Perenungan keflisafatan yang dirincikan secara komprehensif, universal serta runtut senantiasa suatu keseluruhan yang bersistem. Hal ini dimaksudkan bahwa pemikiran kefilsafatan senantiasa memiliki bagian-bagian dan diantara bagian-bagian tersebut senantiasa berhubungan antara satu dengan lainnya. Hubungan tersebut terjalin dalam suatu kerjasama yang saling ketergantungan. Maka bilamana dirinci ciri-ciri sistem adalah sebagai berikut :
1.    Suatu kesatuan bagian-bagian
2.    Bagian-bagian tersebut memilik fungsi sendiri-sendiri
3.    Saling berhubungan (saling ketergantungan)
4.    Kesemuanya dimaksudkan untuk mencapai tujuan bersama atau tujuan sistem.
5.    Terjadi dalam suatu lingkungan yang kompleks (Shrode dan Voich, 1974 : 22) .
Jadi pemikiran kefilsafatan yang bersifat rasional dan runtut pastilah merupakan suatu system. Pemikiran-pemikiran kefisafatan memiliki bagian-bagian yang berada dalam suatu jalinan hubungan terdapat fungus-fungsi, bagian bersifat kompleks serta empiris John Locke (1632 – 1704) yang membagi pengalaman menjadi dua macam aliran yaitu: pengalaman lahiriah (sensation) dan pengalaman batiniah (reflexion) Keddua sumber pengalaman itu menghasilkan idea-idea tunggal simple ideas) namun roh membentuk idea majemuk (complex ideas) .

10.  Bersifat Bebas
Suatu bentuk pengekangan intelektual adalah peniadaan kebebasan atas berfikir. Sifat berfikir secara kefilsafatan adalah bersifat secara bebas untuk sampai pada hakikat yang terdalam dan universal. Oleh karena itu ciri kreativitas senantiasa ada dalam cara kefilsafatan. Sokrates misalnya memilih minum racun dari pada kebebasan berfikirnya ditiadakan. Pengusasaan dan kekangan atas pikiran ini dapat terwujud dalam berbagai macam bidang, misalnya misalnya bidang sosial politik kebudayaan bahkan juga di bidang ilmu pengetahuan misalnya dewasa ini banyak   yang secara tidak langsung dikekang dan dijajah oleh orang atau bangsa lain. Kebanyakan intelektual lebih bangga mengutarakan pendapatnya masih sangat tergantung pada produk pemikiran dari barat. Kemerdekaan dalam berpikir inilah yang nampaknya memerlukan perhatian kalangan filsuf maupun para ilmuwan dan hal iniakan mampu diatasi manakala kita memahami secara kesungguhan makna berfikir secara kefilsafatan.
  
Nilai-nilai Pancasila sebagai Suatu system
            Isi arti sila-sila Pancasila pada hakikatnya dapat dibedakan atas hakikat Pancasila yang umum universal yang merupakan substansi sila-sila Pancasila, Sebagi pedoman pelaksanaan dan penyelenggaraan negara yaitu sebagai dasr negra yang bersifat umum kolektif serta realisasi pengamalan Pancasila yang bersifat khusus dan kongrit. Hakikat Pancasila adalah merupakan nilai. Adapun sebagai pedoman negara adalah merupakan norma adapun aktualisasi atau pengamal-annya adalah merupakan realisasi konrit Pancasila. Substansi Pancasila dengan kelima silanya yang terdapat pada keutuhan, Kemanusiaan, Persatuan kerakyatan dan keadilan merupakan suatu system nilai.  Prinsip dasar yang mengandung kualitas tertentu itu merupakan cita-cita dan harapan atau hal yang akan dicapai oleh bangsa Indonesia yang akan diwujudkan menjadi kenyataan kongrit dalam kehidupannya baik dalam hidup bermasyarakat berbangsa dab bernegara Namun disamping itu prinsip-prinsip dasar tersebut sebenarnya serta kehidupan keagamaan bangsa Indonesia. Secara demikian ini sesuai dengan isi yang terkandung dalam Pancasila, Secra demikian ini sesuai dengan isi yang terkandung dalam Pancasila secara demikian otomatis mengandung tiga masayalah pokok dalam kehidupan manusia yaitu bagaimana seharusnya manusia itu terhadap Tuhan yang Maha Esa. Terdapat dirinya sendiri serta terhadap manusia laindan masyarakat sehingga dengan demikian nmaka dalam Pancasila itu terkandung implikasi moral yang terkadang dalam Substansi Pancasila yang merupakan Suatu nillai.
            Niali-nilai yang terkait dalam sia satusampai dengan limamerupakan cita-cita harapan dan dambaan bangsa bangsa Indonesia yang akan diwujudkannya oleh bangsa Indonesia agar terwujud dalam suatu masyarakat yang gemah rimpah loh jinawai tata tentran karta raharja dengan  penuh harapan diupayakan terealisasi dalam sikap tingkah laku dan perbuatan setiap manusia Indonesia.
            Bangsa Indonesia dalam hal ini merupakan pendukung nilai-nilai Pancasila. Hal ini dapat dipahami berdasarkan pengertian bahwa yang berketuhanan yang berkemanusiaan yang berpersatuan. yang berakyatan dan yang berkeadilan pada hakikatnya adalah manusia. Sebagi pendukung bulai. Bangsas Indonesia itulah yang menghargai mengakui, menerima Pancasila sebagai suatu dasar-dasar nilai Panguan. Penghargaan dan penerimaan itu telah menggejala serta termanifestasi dalam sikap tingkah laku dan perbuatan manusia dan bangsa Indonesia maka bangsa Indonesia dalam hal ini sekaligus adalah pengemban nilai-nilai Pancasila.
            Nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila itu mempunyai tingkatan dalam ha kuantitas maupun kualitasnya. Namun nilai-nilai itu merupakan suatu kesatuan saling berhubungan serta saling melengkapi. Hal ini sebagaimana kita pahami bahwa sila-sila Pancasila itu pada hakikatya merupakan suatu kesatuan saling yang bulat dan utuh atau merupakan suatu kesatuan organic bertingkat dan bentuk pyramidal. Nilai-nilai berhubungan secar erat dan nilai-nilai yang satu tidak dapat dipisahkan dari yang lainnya. Sehingga niali-nilai itu masing-masing merupakan bagian yang integral dari suatu system nilai yang dimiliki bangsa Indonesia, yang akan memberikan pola atau patron bagi sikap, tingkah laku dan perbuatan bangsa Indonesia. Pancasila merupakaan suatu system. Sila-sila itu merupakan suatu kesatuan organic. Antara sila satu dan lainnya dalam Pancaslia itu saling mengkualifikasi saling berkaitan dan berhubungan secara erat Adanya sila yang satu mengualifikasi adanya sila lainnya dalam pengertian yang demikian ini pada hakikatnya Pancasila itu merupakan suatu system niali dalam arti bahwa bagian-bagiian atau sila-silanya saling berhubungan secara erat sehingga membentuk sutu struktur yang menyeluruh.
            Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila termasuk nilai kerohanian yang tinggi 







Tidak ada komentar:

Posting Komentar